Pemanasan Global : Perubahan Iklim dan Kemajuan Peradaban

 Astronomie

 2 views
of 1
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Description
Pemanasan Global : Perubahan Iklim dan Kemajuan Peradaban
Share
Tags
Transcript
   Pemanasan Global : Perubahan Iklim dan Kemajuan Peradaban Dalam catatan sejarah perkembangan peradaban manusia, baru kali ini terdengar ramai-ramai manusia mengatakan bahwa mereka mencintai bumi. Hingga muncul “hari bumi”, sebuah nama yang aneh meski sudah meledak di Amerika sejak tahun 1970. Meski aneh, tujuannya memang tidaklah aneh, meyelamatkan bumi dari keanehan lain, yaitu perilaku manusia yang menganggap bau busuk  pembuangan industri sebagai aroma kemewahan dan kemajuan peradaban. Kemajuan industri dalam sejarahnya berlangsung sejak berkembangnya industrialisasi  bertenaga mesin uap dengan sumber energi berupa batu bara, minyak bumi, gas alam dan kelak adalah nuklir. Kegiatan industrialisasi yang berlangsung sejak Revolusi Industri di Eropa Barat (Inggris) tahun 1850 ini tercatat menghasilkan konsentrasi CO 2  di atmosfer sebesar 280 ppm, dan rata-rata kenaikan temperatur bumi sekitar 0,74 derajat Celcius. Catatan tersebut, selama 160 tahun kemudian, menurut Inter-governmental Panel on Climate Change (IPCC) berubah menjadi 390 ppm. Hal tersebut terutama disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil dan sebagian hasil emisi pertanian dan alih guna lahan hutan. Jika pola ini terus berlanjut dan dibiarkan tidak terkendali maka diperkirakan dalam 100 tahun kedepan suhu rata-rata bumi akan naik 1,1 hingga 5 derajat Celcius. Hasil kajian IPCC, melalui Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubaan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change/UNFCCC) dan protokol Kyoto menjadi landasan perjuangan masyarakat internasional untuk membatasi kenaikan temperatur  bumi tidak lebih dari 2 derajat Celcius. Konsentrasi gas CO 2  di atmosfer harus bisa ditekan pada tingkat maksimum 450 ppm, dengan puncak pencapaian tidak lebih dari tahun 2020. Pemanasan global sangat erat kaitannya dengan kegiatan manusia dalam menggunakan sumber-sumber energi tidak terbarukan serta pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam tanpa memperdulikan daya dukung lingkungan dan kelestarian alam. Kendati disebabkan oleh dan  berdampak pada kondisi sosial ekonomi, namun pemanasan global selama ini masih dianggap sebatas masalah geofisika dan teknis lingkungan belaka, tidak ada hubungannya dengan pembangunan ataupun kebijakan publik. Masalah pemanasan global seolah hanya menjadi urusan ilmuwan fisika, ahli cuaca, dan pakar lingkungan saja. Upaya pengurangan emisi karbon oleh negara-negara maju sebagai pihak yang paling  bertanggung jawab atas terjadinya pemanasan global saat ini dan beberapa negara-negara berkembang masih lebih banyak mengandalkan pada pendekatan teknologi dan ilmu pengetahuan alam. Belum terlihat adanya upaya yang serius untuk menyertakan kebijakan pembangunan sosial ekonomi serta  pendekatan politik dan kultural yang diperlukan untuk mengatasi masalah yang melibatkan berbagai dimensi kehidupan tersebut secara komprehensif. Masih terlalu sedikit yang menyadari bahwa pola  pembangunan yang hanya menitikberatkan pada aspek produksi dan konsumsi tanpa memperdulikan daya dukung lingkungan dan kelestarian alam itulah yang terutama menjadi faktor penyebab  pemanasan global. Bagaimana aktor-aktor pembangunan akan mengatur dan menerapkan pola pembangunan di tingkat internasional, nasional, dan lokal akan sangat menentukan seberapa besar tingkat ketahanan sistem sosial terhadap perubahan iklim di masa depan, sebab perubahan iklim akan berdampak langsung terutama pada kegiatan-kegiatan yang sensitif terhadap perubahan cuaca seperti pertanian,  perikanan, dan kesehatan, serta membawa akibat lebih jauh pada masalah kemiskinan, pendidikan, kesejahteraan sosial, dan sebagainya. Maka pertanyaannya kemudian adalah apakah kemajuan  pembangunan/peradaban akan terus menggunakan cara-cara konvensional seperti ini? Sumber : Dhakidae, Daniel & Hadad, Ismid. 2010. Bumi Manusia ; Perubahan Iklim dan Pembangunan Berkelanjutan. Artikel majalah pemikiran sosial ekonomi, Prisma Vol. 29 (2) : 3  –   22. KLH. 2009. Indonesia Second Communication under United Nations Framework Convention on Climate Change: Summary for Policy Makers. Makalah, Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Jakarta. Scientific Note 21 Januari 2014 Oleh : Iif Rahmat Fauzi, SE
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks