UPT MKU FIS UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2012

 Taxes & Accounting

 5 views
of 17

Please download to get full document.

View again

All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Description
UPT MKU FIS UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2012
Share
Tags
Transcript
  PANDANGAN M.NATSIR TENTANG DEMOKRASI (KAJIAN PEMIKIRAN POLITIK ISLAM) MAKALAH Oleh: INDAH MULIATI, S.PdI, M.Ag NIP. 197904152009122001 UPT MKU FIS UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2012  KATA PENGANTAR Kemunduran perpolitikan dalam Islam menggoyahkan pertahanan umat Islam. Imbasnya merambah ke segala lini kehidupan. Kenyataan ini tidak terlepas dari pengaruh musuh Islam, meski tidak pula bisa dipungkiri di dalam tubuh Islam itu sendiri sebenarnya telah terjadi  perpecahan dan kekeroposan akidah yang pelan-pelan menyebabkan mengelupasnya moral umat. Berangkat dari kondisi inilah muncullah beberapa tokoh besar yang melahirkan  pemikiran-pemikiran cerdas dengan tujuan mengembalikan umat Islam kepada tatanan kehidupan yang Islami. Makalah ini mengupas pemikiran salah satu tokoh perpolitikan Islam di Indonesia, M. Natsir. M. Natsir menolak dengan tegas ide sekularisasi yang dilakukan oleh Kemal al-Taturk di Turki, ide yang disetujui oleh Soekarno. M. Natsir megungkapkan dengan tegas bahwa agama dan Negara harus menyatu. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk politik. Konsep  perpolitikan M.Natsir yang dikupas dalam makalah ini mengambil fokus pada konsep demokrasi. Konsep demokrasi yang dikemukakan oleh M. Natsir berbeda dari konsep demokrasi yang ditawarkan oleh pakar politik yang lain. Walaupun agak mirip dengan konsep demokrasi yang ditawarkan oleh al-Maududi dengan  Teo demokrasi , namun M. Natsir dengan Theistik democracy  agak lebih longgar jika dibandingkan dengan konsep demokrasi al-Maududi yang digolongkan sebagai tokoh yang menutup diri dari ide Barat. Kajian tentang perpolitikan selalu menarik untuk dibahas, mengingat kondisi perpolitikan negara kita yang amburadul, tulisan ini membahas demokrasi dari sudut pandang salah satu tokoh Islam Indonesia, yang bisa kita jadikan bahan untuk memahami demokrasi yang sesuai dengan ajaran Islam sehingga kita mampu melepaskan diri dari demokrasi yang kebablasan tanpa memiliki konsep yang jelas, atau mengambil konsep demokrasi barat seutuhnya tanpa memfilternya kembali. Padang, 09 April 2012 Kepala UPT MKU Universitas Negeri Padang Dra. Murniyetti, M.Ag.  NIP.195903211987032001   1 PANDANGAN M.NATSIR TENTANG DEMOKRASI (KAJIAN PEMIKIRAN POLITIK ISLAM) A.   Pendahuluan Dalam peta pemikiran politik Islam, terdapat perbedaan  pandangan terhadap konsep demokrasi yang berasal dari Barat, ada kelompok yang menolak dengan tegas terhadap adanya korelasi Islam dengan demokrasi, namun ada yang kelompok yang menerima terhadap adanya korelasi Islam dengan konsep demokrasi dari Barat. Kelompok pertama yang dengan tegas menolak, berpendapat  bahwa demokrasi tidak memiliki nilai historis dan dukungan sama sekali dalam Islam, sebab sebagai sebuah system hukum dan moral, syari’ah  Islam sudah lengkap. Dalam Islam kedaulatan tertinggi berada di tangan Tuhan bukan di tangan rakyat. Sedangkan bagi kelompok yang menerima adanya korelasi Islam dengan konsep demokrasi, berpendapat bahwa demokrasi Barat, mirip dengan Islam dan memiliki persamaan-persamaan yang signifikan. Beranjak dari dua pemikiran di atas, penulis melihat para pakar  politik Islam memiliki pandangan yang berbeda terhadap konsep demokrasi, salah satu tokoh modernis Indonesia M. Natsir memiliki  pemahaman tersendiri terhadap konsep demokrasi. Makalah sederhana ini bermaksud untuk mengetahui bagaimana  pandangan M. Natsir tentang konsep demokrasi. B.   Pembahasan 1.   Pendidikan dan Aktivitas Politik M. Natsir M. Natsir adalah seorang cendikiawan, penulis dan politikus Indonesia. Lahir tanggal 17 juli 1908 di daerah Jembatan Berukir, Alahan Panjang , Solok Sumbar. (Solichin, 1990 : 131) M. Natsir mulai mengikuti pendidikan formal di saat ia berusia 8 tahun pada mulanya ia   2 berkeinginan untuk mengikuti pendidikan di HIS (Hollandse Inlandse School) yaitu sekolah negeri belanda. Namun keinginan untuk masuk sekolah itu gagal ketika M. Natsir diketahui anak seorang pegawai rendahan semangatnya yang tinggi untuk sekolah membuat orang tuanya menyekolahkannya ke HIS adabiah padang. ( M. Yunus, 1996 : 63) Sebelum M. Natsir menyelesaikan pendidikannya di HIS Adabiah, M. Natsir dipindahkan oleh orang tuanya ke HIS pemerintah Solok. Di Solok M. Natsir mengikuti berbagai pendidikan keagamaan, seperti  belajar Bahasa Arab dan al Qur’an kepada tuanku Mudo Amin di Madrasah Diniyyah. (Noor, 1998 : 100) Kemampuannya dalam berbahasa Arab, serta pertemuannya dengan tokoh-tokoh pembaharuan seperti Abdullah Ahmad dan Tuanku Mudo Amin disertai kegemarannya membaca tulisan-tulisan  pembaharuan, membuat Natsir terlibat intensif menggeluti ide dan  pemikiran para pembaharu dalam usia yang relatif muda. Pada tahun 1923, Natsir melanjutkan pendidikannya ke MULO (  Middlebare Uitgebreid Larger Onderwyis ), (Nasution, 1995 : 128) di kota Padang. Di samping sibuk mengikuti pendidikan di Mulo, ia juga aktif dalam kegiatan kepanduan Natipij yang bernaung di bawah Jong Islamited Bond (JIB) seperti organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) sekarang. (Yusuf, 1978 : 4) Ia menyelesaikan pendidikannya di MULO  pada tahun 1927, kemudian ia merantau ke Bandung untuk mengikuti  pendidikan lanjutan di AMS (  Algemene Middlebare School ), AMS merupakan jenjang pendidikan untuk persiapan mengikuti universitas di Belanda. ( Suhelmi, 1999 : 23) Di sekolah ini ia mulai menekuni ilmu  pengetahuan Barat. Ia mempelajari berbagai aspek sejarah peradaban Islam, Romawi, Yunani dan Eropa melalui buku-buku berbahasa Arab, Perancis dan Latin. Tanpa kesulitan Natsir dapat mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh, bahkan dari sinilah Natsir memulai keseriusannya dalam merumuskan konsepsinya tentang Islam dan  berbagai sejarah Islam melalui kacamata Barat (buku-buku barat).   3Setelah setahun masuk AMS. Natsir kembali memasuki organisasi JIB, ia aktif dalam JIB sampai studinya di AMS selesai tahun 1930. Motivasinya masuk JIB, karena ia prihatin terhadap besarnya  pengaruh Barat di kalangan pelajar-pelajar muslim, yang terlihat dari cara berpikir dan bergaul ala Barat, mereka bangga mengidentifikasikan diri dengan orang Belanda. ( Suhelmi, 1999 : 24) Dengan aktifnya di JIB ia berusaha melakukan pendekatan dan menumbuhkan simpati di kalangan pelajar terhadap Islam dan organisasi JIB. Selama tinggal di Bandung Natsir juga belajar pada tokoh ulama Persis A. Hasan,  peristiwa ini tercatat dalam sejarah hidup Natsir sebagai peristiwa yang menariknya kedalam gerak perjuangan Persis. Dari Persis inilah, Natsir mulai meniti kariernya sebagai seorang pejuang, negarawan dan agamawan. Natsir terlibat dalam penerbitan majalah Pembela Islam sejak awal terbit (oktober 1929). Setelah menyelesaikan studi di AMS. Natsir tidak melanjutkan kuliahnya, ia menolak beasiswa yang ditawarkan untuknya, malahan ia mengajar di salah satu MULO di Bandung. Kenyataan in merupakan  panggilan jiwanya untuk mengajar agama yang pada masa itu belum memadai. Natsir kemudian mendirikan Lembaga Pendidikan Islam (Pendis), suatu bentuk pendidikan modern yang mengkombinasikan kurikulum pendidikan umum dengan pendidikan pesantren. Natsir menjabat sebagai Direktur Pendis selama sepuluh tahun sejak tahun 1932. Terjadinya perubahan dalam pergerakan Islam yang pada awalnya terfokus pada pergumulan  fiqhiyyah  dan  furu’iyyah  beranjak kepada pergumulan Islam yang ideologis dan politis. Natsir ikut terbawa ke dalam arus perubahan ini, ditandai dengan keterlibatan  Natsir dalam aktivitas politik, ketika pertama kali mendaftarkan diri menjadi anggota partai Islam Indonesia (PII), dan pada tahun 1940, ia terpilih sebagai ketua umum cabang partai tersebut di Bandung. Di
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks